Teks Anekdot: RUANG KONSELING ATAU TEMPAT CUKUR

 

RUANG KONSELING ATAU TEMPAT CUKUR

M. DIMAS IBNU PRATAMA

TEKS ANEKDOT


    Di sebuah sekolah yang terkenal dengan peraturan ketatnya, ada satu ruangan yang menjadi momok bagi para siswa. Ruang Bimbingan Konseling. Di ruangan itu, Bu Talika, guru BK yang juga merangkap sebagai "juri kecantikan dan kerapian," memegang kendali penuh. Tapi entah mengapa, ruangan itu lebih sering dianggap oleh para siswa sebagai tempat cukur daripada ruang konseling.

Suatu hari, Ibnu, siswa kelas 11 dipanggil masuk ke ruangan tersebut. Alasan pemanggilannya sederhana tapi sangat menggelikan. Yaitu rambutnya dianggap dianggap memebihi 4cm, padahal gaya rambutnya bisa di bilang lumayan rapi.

"Ibnu, coba lihat rambutmu," kata Bu Talika sambil melipat tangan.

"Menurut ibu, ini sudah seperti mau jadi model iklan sampo. Apa ini pantas untuk seorang pelajar yang ingin berprestasi?"

Ibnu, yang terkenal cerdik dan punya mulut tajam, mencoba tetap tenang.

"Bu, rambut ini masih di atas kerah kok. Kalau panjangnya sampai mengganggu belajar, saya janji akan langsung cukur Bu," jawabnya sopan.

Namun, Bu Talika tidak semudah itu diluluhkan. Ia mengambil gunting kecil dari laci meja, lalu berkata dengan nada tegas.

 "Ibnu, rambut itu cerminan disiplin. Kalau rambutmu panjang, siapa yang bisa percaya kamu punya karakter baik? Sekarang duduk, biar ibu rapikan."

Ibnu sontak terkejut. "Loh, Bu? Ini ruang konseling atau tempat cukur? Saya kira kita mau bicara soal masalah perilaku, bukan potong rambut."

Bu Talika menjawab dengan nada bijak yang terasa sarkas. "Masalah perilaku itu dimulai dari hal kecil, Ibnu. Kalau rambutmu tidak rapi, bagaimana sikapmu bisa baik? Ini namanya terapi kedisiplinan."

Mau tak mau Ibnu akhirnya duduk. Namun, sebelum Bu Talika mulai menggunting, ia bertanya.

            "Bu, kalau rambut saya pendek, apa nilai matematika saya akan bagus? Atau mungkin rambut pendek bikin saya lebih paham pelajaran fisika?"

Bu Talika menghela napas panjang. "Bukan begitu Ibnu. Tapi setidaknya kamu terlihat lebih terhormat sebagai pelajar."

          Ibnu menahan tawa.

        "Bu, rambut saya panjang atau pendek, otak saya tetap sama. Kalau ibu ingin membantu saya jadi lebih baik, kenapa nggak ajarin cara mengatasi stress saat ujian aja? Atau bantu kami biar lebih pede menghadapi masa depan?"

Ucapan itu membuat Bu Talika terdiam sejenak. Tapi seperti biasa, ia menutup diskusi dengan kalimat pamungkas khasnya. "Sudah, jangan banyak alasan. Rambut rapi dulu, baru kita bicara soal masa depan."

Ibnu keluar dari ruang BK dengan rambut yang acak-acakan akibat potongan salon dadakan tersebut. Tapi di wajahnya terukir senyum kemenangan kecil. Dalam hati, ia bergumam,

"Ternyata, disiplin di sekolah ini memang lebih soal panjang rambut daripada panjang akal."

        Sejak hari itu, Ibnu punya julukan baru untuk ruang BK. "Salon Talika, spesialis konseling lewat potongan rambut."

 


Komentar