Judul Buku : SESENGGAK SASAK
Penulis : Muhammad Shubhi
Penerbit :
KSU “Primaguna”
Cetakan :
Cetakan Pertama, April 2012
Tebal : vii+58 Halaman
ISBN : 978-602-7686-37-3
Generasi
Z saat ini hidup di era revolusi industri 5.0 yang penuh kemudahan sekaligus
krisis moral dan jati diri, terlihat dari maraknya perundungan, FOMO, hingga
obsesi pengakuan di media sosial yang menjauhkan mereka dari akar budaya. Nilai
lokal pun mulai runtuh digantikan budaya populer global. Menyikapi hal ini,
Muhammad Shubhi seorang budayawan sekaligus peneliti sastra, hadir dengan buku Sesenggak
Sasak sebagai upaya memulihkan kesadaran kolektif akan falsafah hidup dan
etika sosial masyarakat Sasak yang Adi Luhung[1].
Serta sebagai bentuk inisiatif pribadinya untuk menyelamatkan khazanah lisan
Sasak yang mulai ditinggalkan. Kehadiran buku ini sebagai bagian dari program
Kantor Bahasa NTB. Selain itu, beliau juga menulis Belelakaq: Tradisi
Berpantun Etnis Sasak dengan tujuan utama menumbuhkan pemahaman generasi
muda terhadap kekayaan budaya lisan Sasak agar tetap hidup di tengah
gempuran modernitas (Shubhi, 2025)[2] .
Sebagai
salah satu Generasi Z, meresensi buku ini adalah salah satu bentuk apresiasi
saya terhadap karya Muhammad Shubhi. Karena isinya relevan dan menghadirkan
solusi bagi krisis empati dan kegamangan identitas yang saya alami sebagai
pelajar di era serba cepat dan penuh distraksi.
Muhammad Shubhi
dalam buku Sesenggak Sasak, menghadirkan folklor lisan bukan sekadar
warisan tutur tanpa makna, melainkan panduan hidup lintas generasi. Ungkapan “Kewawo
deq kelalah siq songon” (Kerbau tidak akan terhalang oleh tanduknya)
memberi semangat bahwa kekurangan bukan alasan untuk berhenti maju, memotivasi
pelajar yang sering minder agar tetap percaya diri (hal. 20). Begitu pula “Gitaq
pager diriq juluq, baruq gitaq pager dengan” (Lihat pagar diri dahulu, baru
pagar orang) terasa sangat aktual di tengah maraknya perundungan dan komentar
pedas di media sosial seperti TikTok dan Instagram, sesenggak ini seolah
menegur kita untuk bercermin sebelum mengomentari atau menghakimi orang lain
(hal.24).
Selain menghadirkan
nilai moral dan pendidikan, buku ini juga menggambarkan kritik sosial. Dalam
peribahasa “Bantot belage pupaq esol” (Kerbau jantan bertarung, rumput
jadi korban) yang menggambarkan rakyat kecil sebagai pihak yang dirugikan
akibat konflik elite (hal.26-27). Begitu pula “politik belah tereng”
(politik membelah bambu) menyindir strategi memecah belah persaudaraan demi
kepentingan pribadi atau politik (hal.29).
Buku
Sesenggak Sasak karya Muhammad Shubhi menempatkan sesenggak bukan hanya
sebagai nasihat moral, tetapi juga cermin realitas sosial. Dengan penyajian
praktis, penulis mampu menghadirkan dokumentasi budaya dan instrumen
pendidikan karakter yang hangat serta relevan bagi pembaca muda. Hal ini tercemin
dari kemampuan Shubhi dalam memaparkan makna dari nilai-nilai tersebut. Seperti
nilai kualitas hidup sampai dengan intropeksi diri.
Selain
itu, penulis menegaskan bahwa Sesenggak Sasak menjadikan sastra lisan
sebagai sarana literasi budaya yang
menyalurkan nilai luhur sekaligus membuka ruang bagi generasi digital untuk
menghidupkan kembali kearifan lokal (Shubhi, 2025)[3].
Harapan ini terasa relevan ketika sesenggak hadir sebagai teguran halus di
tengah dunia digital yang serba cepat. Sejalan dengan gagasan Ki Hajar
Dewantara (1977) bahwa pendidikan sejati harus menuntun budi pekerti, pikiran,
dan tubuh sesuai kodrat zamannya[4].
Apa yang
diungkapkan penulis di dalam bukunya, juga selaras dengan yang disampaikan oleh
Kepala PUSDA NTB, Dr. H. Ashari, S.H., M.H. (25/08/2025), dalam pembukaan
pembekalan lomba resensi. Beliau menegaskan bahwa
literasi budaya merupakan fondasi jati diri bangsa dan membaca ibarat membuka
jendela dunia. Dengan membaca kita dapat melangkah jauh meski tetap berada di tempat.
Karena itu, literasi agama dan budaya dipandangnya sebagai program prioritas
yang harus diperkuat di tengah arus globalisasi.
Secara
keseluruhan, Sesenggak Sasak memiliki keunggulan yang patut diapresiasi,
terutama dalam penguatan karakter, pelestarian budaya lokal, dan peneguhan
warisan budaya Adi Luhung suku Sasak. Pelestarian ini penting karena sesenggak
merupakan warisan lisan yang mudah hilang jika tidak dibukukan. Sehingga karya
ini menjadi langkah untuk mewariskannya kepada generasi mendatang. Di
tengah dinamika geopolitik yang tidak menentu, konflik antarbangsa, dan
polarisasi politik, buku ini juga hadir sebagai penguat identitas bangsa.
Pendekatan
yang memadukan pandangan filosofis dengan realitas sosial membuat gagasannya
tidak hanya berbobot secara pemikiran, tetapi juga hangat dirasakan dan relevan
bagi pembaca. Penulis pun tidak menempatkan sesenggak sekadar warisan
adat demi nostalgia, melainkan sebagai sumber nilai yang menjawab tantangan
zaman, sehingga menjadi “kompas etika”
di tengah dunia yang membingungkan.
Kemampuan
Muhammad Shubhi dalam memaparkan Sesenggak dengan bahasa yang lugas dan
sederhana, menambah keunggulan lain dari buku ini. Menjadikan pesan moral lebih
mudah dipahami tanpa terasa menggurui. Beliau berhasil menghidupkan kembali
petuah lama menjadi narasi segar yang akrab di telinga pembaca muda, seolah
mendengar nasihat bijak dari orang tua di halaman rumah. Selain itu,
klasifikasi tematik yang penulis buat mulai dari potensi diri hingga etos kerja
memudahkan pembaca menemukan tema yang relevan bagi kehidupannya.
Kejelian
Muhammad Shubhi mengangkat Sesenggak Sasak ini menjadi sebuah buku,
dengan penafsirannya dalam menguraikan makna sesenggak memperkaya pemahaman
pembaca tentang kearifan lokal suku Sasak. Buku ini juga sekaligus menjadi
sebuah refleksi betapa tingginya cipta, rasa dan karsa[5]
para pendahulu Suku Sasak. Sesenggak
Sasak dapat menjadi penjaga warisan budaya yang Adi Luhung.
Jika
dibandingkan dengan karya lain dari Shubhi Belelakaq: Tradisi Berpantun
Etnis Sasak, yang lebih menonjolkan pada sisi seninya baik seni
pertunjukan maupun seni berbicara. Maka didalam bukunya Sesenggak Sasak, Muhammad
Shubhi lebih menonjolkan pada nilai-nilai budaya Sasak yang serat akan
makna. Sebagai sebuah refleksi moral dan menawarkan relevansi yang dapat
langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan
orientasi ini menunjukkan keluasan visi Shubhi dalam merangkai karya sastra
berbasis kearifan lokal.
Apa yang
ditulis Muhammad Shubhi dalam buku ini, bukan hanya pandangan pribadinya tetapi
disertai dengan fakta dan data, hal ini dapat ditelusuri melalui daftar pustaka
yang menambah kredibilitas dan memudahkan penelusuran sumber.
Namun
setiap karya pasti memiliki kekurangan, demikian pula Sesenggak Sasak.
Dari segi isi, Muhammad Shubhi telah menganalisis pesan sosial budaya dari sesenggak,
akan tetapi penulis belum banyak menyentuh dimensi religius Islam secara
eksplisit. Seharusnya analisis dilakukan lebih menyeluruh, mengingat Suku Sasak
sangat menjunjung tinggi nilai Islami. Misalnya pada sesenggak “Deq
araq bangke lakoq tukaq” yang menegaskan kepedulian terhadap jenazah
melalui ngipayahin (hlm. 30). Sesungguhnya ini sepadan dengan fardu
kifayah dalam Islam, kewajiban yang mencakup hablumminannas
sekaligus hablumminallah. Pesan moralnya akan lebih kuat bila diperkaya
dengan rujukan Al-Qur’an dan hadis sehingga dapat dipahami bukan sekadar norma
adat, tetapi juga perintah agama yang bernilai pahala.
Sesenggak
Sasak lebih menitikberatkan pada etika sosial, sehingga
kekuatan moralnya terasa di ranah hubungan antarmanusia, namun kedalaman spiritualnya
belum tajam. Menariknya, dalam karya penulis yang lain, Belelakaq: Tradisi
Berpantun Etnis Sasak, dimensi religius hadir kuat melalui lelakaq[6]
agama yang sarat pesan amal, ajakan beribadah, dan peringatan akhirat. Salah
satunya berbunyi, “Belelayang leq tembere, tengaq bangket bale bongkang, mun
sembahyang deqde mele, sanget laloq siqde jogang” (Belelakaq: hlm. 39–40)[7].
Pantun Islami ini merajut pesan spiritual dengan kearifan lokal, menciptakan
harmoni antara agama dan budaya.
Dari segi
penyajian, pemisahan antara kutipan sesenggak dan narasi penjelasan
masih kurang tegas. Idealnya setiap sesenggak ditulis dengan tanda
kutip, diterjemahkan secara jelas, atau diberi catatan kaki agar mudah dipahami.
Terutama oleh pembaca yang tidak familiar dengan bahasa Sasak. Aspek visual
juga perlu diperhatikan, karena desain sampul yang sederhana cenderung kurang
memikat, khususnya bagi kalangan Gen Z yang terbiasa dengan tampilan dinamis.
Menambahkan ilustrasi khas Sasak atau elemen grafis yang menonjolkan identitas
lokal akan menjadi strategi tepat untuk menarik minat pembaca muda.
Kelemahan
lain juga tampak pada bagian kata pengantar. Penulis tidak menampilkan secara
jelas sumber informasi tentang asal-usul sesenggak maupun siapa saja
informan yang berperan dalam memberikan data. Bahkan tidak ada ucapan terima
kasih kepada para informan sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka
dalam melestarikan tradisi lisan ini. Seharusnya hal tersebut menjadi bagian
penting. Mengingat integritas karya akademik dan etnografi selalu ditopang oleh
kejujuran dalam menyebutkan sumber dan apresiasi kepada narasumber.
Kendati
demikian, kekurangan ini tidak mengurangi nilai penting buku tersebut sebagai
kontribusi nyata dalam pelestarian budaya lisan. Muhammad Shubhi berhasil
membuktikan bahwa warisan leluhur seperti sesenggak layak dihidupkan
kembali, ditafsirkan ulang, dan dikemas dalam format yang relevan dengan
tantangan zaman sebagai sebuah refleksi.
Sesenggak Sasak
bukan sekadar untaian kata-kata tanpa makna, tetapi ia adalah sebuah cerminan
refleksi diri untuk menemukan hakikat diri kita sebenarnya. Di tengah derasnya
arus globalisasi dan krisis karakter yang menjalar seperti kabut. Buku ini
berdiri sebagai penanda bahwa nilai-nilai kehidupan ada dan berkembang serta
diwariskan ke generasi berikutnya. Muhammad Shubhi tidak hanya merangkai
ungkapan Sasak, tetapi menyalakan kembali api etika, kepemimpinan, dan
kesadaran sosial yang nyaris padam.
Selain itu,
buku
ini layak menjadi bahan referensi muatan lokal di semua jenjang pendidikan dan
koleksi wajib di perpustakaan sekolah, desa, maupun perpustakaan umum. Karena,
buku ini menanamkan semangat gotong royong, kemandirian, dan integritas, serta membangkitkan
kebanggaan terhadap identitas sebagai Suku Sasak yang kaya akan nilai-nilai
budaya Adi Luhung. Membacanya bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi
menghidupkan kembali denyut nadi masa lalu menuju masa depan. Sebagai bentuk
transformasi budaya lisan menjadi budaya literasi lisan. Sesenggak Sasak
patut dijadikan sebagai pelita di tengah zaman yang kian redup dan sebuah
ajakan untuk berpijak pada akar budaya.
[1] Adi Luhung berarti sangat
luhur atau sangat mulia (KBBI, Kemdikbudristek).
[2] Dikutip dari hasil
wawancara dengan Muhammad Subhi mengenai latar belakang penulisan kedua
buku tersebut (28/08/2025).
[3] Wawancara dengan Penulis
(28/08/2025) mengenai harapan beliau terhadap pelestarian sastra lisan bagi
generasi muda.
[4] Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan,
Bagian Pertama (Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1977).
[5] Karsa berarti
kehendak atau niat (KBBI).
[6] Lelakaq dalam
Bahasa Indonesia berarti Pantun.
[7] Dikutip
dari karya lain dari Muhammad Subhi yang berjudul Belelakaq: Tradisi
Berpantun Etnis Sasak (hal. 39-40). Dapat diakses melalui https://www.researchgate.net/publication/358411513_Belelakaq_Tradisi_Berpantun_Etnis_Sasak .
Komentar
Posting Komentar