Lomba Esai Great Edunsia (25/12/2025): LITERASI DAN KEPEMIMPINAN: MENULIS UNTUK MEMIMPIN SEBAGAI PRAKTIK LITERASI DALAM PEMBENTUKAN INTEGRITAS PEMIMPIN MUDA

LITERASI DAN KEPEMIMPINAN: MENULIS UNTUK MEMIMPIN SEBAGAI PRAKTIK LITERASI DALAM PEMBENTUKAN INTEGRITAS PEMIMPIN MUDA

 M. DIMAS IBNU PRATAMA

SMAN 1 TERARA

“Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.” -H.O.S. Tjokroaminoto

PENDAHULUAN


Saat menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS mempertemukan saya dengan banyak simbol kepemimpinan. Mulai dari jabatan, kepercayaan, dan ekspektasi. Namun, kutipan H.O.S. Tjokroaminoto di awal tulisan ini justru mengguncang cara saya memaknainya. Saya mulai menyadari bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari keberanian berbicara lebih dulu, tetapi dari keberanian untuk berpikir lebih dalam. Berpikir bagi saya, selalu berawal dari kebiasaan membaca realitas dan menuliskannya dengan tanggung jawab.

Kesadaran personal itu menemukan relevansinya ketika diletakkan dalam lanskap literasi generasi muda Indonesia hari ini. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 mencatat skor literasi membaca pelajar Indonesia sebesar 359, jauh di bawah rata-rata OECD 476 poin, sekaligus menunjukkan learning loss pascapandemi yang masih membekas (OECD–PISA, 2022). Sementara itu, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat yang dirilis Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menunjukkan bahwa budaya baca masyarakat Indonesia masih berada pada kategori sedang dan belum merata (Perpusnas RI, 2023).

Dampak dari kondisi tersebut saya rasakan langsung dalam pengalaman memimpin. Tidak sedikit rapat yang berakhir tanpa kesimpulan tertulis, program berjalan tanpa evaluasi, dan keputusan diambil berdasarkan intuisi sesaat. Kepemimpinan pelajar sering kali berhenti pada simbol jabatan, bukan pada kekuatan gagasan yang lahir dari proses literasi. Padahal, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menegaskan bahwa literasi merupakan kemampuan esensial abad ke-21 yang berkaitan langsung dengan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan (Kemendikbudristek, 2022).

Berangkat dari pengalaman pribadi yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Osis, esai ini menegaskan bahwa literasi bukan pelengkap, melainkan fondasi kepemimpinan pelajar Indonesia. Ketika pelajar dibiasakan menulis seperti wartawan jujur pada data dan realitas serta berbicara seperti orator yang berani dan bertanggung jawab, tidak hanya belajar memimpin organisasi, tetapi sedang dipersiapkan untuk memimpin Indonesia dengan gagasan dan nurani.

PEMBAHASAN

Menulis sebagai Jalan Kepemimpinan Berintegritas

Saya tidak pernah benar-benar percaya bahwa kepemimpinan hanya lahir dari ruang rapat atau struktur organisasi. Bagi saya, kepemimpinan justru mulai tumbuh ketika seseorang berani mengambil tanggung jawab moral atas gagasan yang ia tulis dan suarakan. Inspirasi itu berangkat dari satu kutipan sederhana H.O.S. Tjokroaminoto. Bahwa pemimpin besar harus menulis seperti wartawan dan berbicara seperti orator. Kalimat itulah yang mencoba mendorong saya menjadikan menulis bukan sekadar hobi, melainkan jalan hidup dan jalan kepemimpinan.

Saya mulai menulis dengan kesadaran bahwa kata-kata memiliki konsekuensi. Dari jurnalistik, feature, hingga cerpen, saya belajar membaca realitas dan menuliskannya dengan tanggung jawab. Proses itu tidak hanya membentuk keterampilan teknis, tetapi juga karakter. Menulis jurnalistik kita dilatih untuk setia pada fakta dan setia memegang kode etik. Menulis artikel feature dan cerpen dapt menumbuhkan empati dan memahami kehidupan di balik peristiwa. Di situlah saya belajar bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dari keinginan untuk tampil, melainkan dari keberanian memperjuangkan nilai kebersamaan.

Perjalanan menulis tersebut perlahan berbuah. Selama tahun 2025, saya berhasil meraih beberapa penghargaan. Juara 1 Lomba Jurnalistik FLS3N tingkat Kabupaten Lombok Timur, Juara 1 Lomba Menulis Artikel Jurnalistik di Fakultas Pertanian Universitas Mataram, Juara 3 Lomba Menulis Feature tingkat nasional di UKM Pers DETaK Universitas Syiah Kuala, serta Juara 1 Lomba Menulis Cerpen bertema kebudayaan di Universitas Hamzanwadi. Selain itu, saya juga meraih Juara 3 Lomba Resensi Buku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lombok Timur. Prestasi-prestasi tersebut bukan sekadar penghargaan semata, melainkan penanda bahwa gagasan yang ditulis dengan sungguh-sungguh mampu menemukan pembacanya.

 


Dampak dari proses itu melampaui ruang lomba. Sejumlah tulisan dan capaian saya diliput oleh media lokal, menjadikan karya pelajar sebagai bahan percakapan publik. Dari sana saya menyadari bahwa kepemimpinan tidak selalu hadir dengan mikrofon atau jabatan formal. Melainkan hadir melalui tulisan yang dapat dibaca dan menggerakkan kesadaran. Menulis memberi saya ruang untuk memimpin tanpa harus memerintah dan dapat mempengaruhi tanpa harus memaksa.

Di titik inilah saya memahami lebih mendalam pesan H.O.S. Tjokroaminoto. Bahwa Menulis seperti wartawan bukan hanya soal teknik jurnalistik semata, melainkan keberpihakan pada kebenaran dan kejujuran. Berbicara seperti orator bukan sekadar kepiawaian retorika, tetapi keberanian moral menyampaikan gagasan yang telah diuji oleh akal sehat. Menulis, bagi saya, adalah tahap paling awal dan paling menentukan dari kepemimpinan yang berintegritas.

Berbagai kajian pendidikan dan kebijakan nasional menegaskan bahwa literasi berperan besar dalam membentuk pemimpin yang kritis dan etis. Kementerian Pendidikan (melalui kebijakan literasi nasional) menempatkan literasi sebagai inti pembelajaran abad ke-21 karena kemampuannya membentuk pola pikir reflektif dan bertanggung jawab (2022). Pengalaman pribadi saya ini membuktikan bahwa integritas memang tidak lahir dari spontanitas, melainkan dari proses panjang membaca, menulis, dan mempertanggungjawabkan gagasan di ruang publik.

Mimpi saya sederhana, yaitu bisa menjadi pemimpin yang tidak hanya pandai mengambil keputusan, tetapi juga berani mempertanggungjawabkannya secara terbuka. Dalam mimpi itu, menulis bukan aktivitas sampingan, melainkan kompas moral. Seperti yang diimpikan H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin masa depan Indonesia harus lahir dari rahim literasi dan dari mereka yang terbiasa menulis sebelum berbicara, dan berpikir sebelum memimpin.

Gerakan: Menulis Untuk Memimpin

Untuk mewujudkan mimpi tersebut, saya memiliki sebuah gagasan sederhana namun bisa berdampak. Sebuah gerakan “Menulis untuk Memimpin.” Gerakan ini berfondasi pada keyakinan bahwa kepemimpinan yang berintegritas harus dilatih sejak dini melalui literasi aktif. Seperti menulis, mengeksplorasi, dan mengevaluasi diri.

1. Konsep Dasar

Gerakan ini mendorong setiap pelajar untuk aktif terlibat dalam sebuah organisasi, komunitas, maupun ruang publik yang positif dan menjadikan menulis sebagai praktik kepemimpinannya. Menulis bukan sekadar tugas sekolah, melainkan sarana refleksi, evaluasi, dan pertanggungjawaban moral atas gagasan yang diperjuangkan.

2. Bentuk Implementasi (Praktis & Bisa Dilakukan Pelajar)

Gerakan ini dapat diwujudkan melalui langkah-langkah sederhana:

a)       Jurnal Kepemimpinan Pelajar: Menulis untuk Bertanggung Jawab

Jurnal Kepemimpinan Pelajar tidak ditempatkan sebagai buku harian personal, melainkan sebagai alat evaluasi kepemimpinan. Setiap pelajar, baik pengurus OSIS, ketua kelas, maupun anggota organisasi menuliskan refleksi berkala atas keputusan yang diambil. Mulai dari apa yang berhasil, apa yang gagal, dan nilai apa yang dipelajari. Dalam praktiknya, jurnal menjadi arsip pembelajaran kepemimpinan yang dapat mencegah pengulangan kesalahan yang sama dan melatih kita mempertanggungjawabkan setiap tindakan. Sebagai mekanisme pembentuk integritas.

b)       Ruang Publikasi Pelajar: Dari Tulisan ke Tanggung Jawab Sosial

Agar tulisan tidak berhenti sebagai konsumsi pribadi, sekolah dapat menyediakan Ruang Publikasi Pelajar. Bisa melalui mading digital, website sekolah, maupun kolaborasi dengan media lokal. Pelajar diberi ruang menulis opini tentang isu yang dekat dengan kehidupan mereka (pendidikan, lingkungan, kebudayaan). Setiap tulisan melewati proses penyuntingan berbasis fakta dan etika, sehingga pelajar belajar bahwa kebebasan berekspresi selalu beriringan dengan kode etik. Ketika gagasan dapat dibaca oleh publik, kepemimpinan tumbuh melalui pengaruh pikiran, bukan kekuasaan.

c)       Panggung Gagasan: Orasi yang Lahir dari Tulisan

Panggung Gagasan menjadi ruang diskusi dan orasi untuk menyampaikan gagasan yang telah diuji argumen dan datanya. Model ini menyeimbangkan literasi dan kepemimpinan. Yaitu menulis dengan ketelitian wartawan dan berbicara dengan tanggung jawab orator, sebagaimana dicita-citakan H.O.S. Tjokroaminoto. Panggung ini bisa hadir dalam bentuk forum bulanan atau dialog kebijakan sekolah, sehingga suara pelajar tidak hanya didengar, tetapi juga dipertimbangkan.

Semua langkah ini dapat dimulai dari sekolah, komunitas literasi, atau bahkan secara mandiri oleh pelajar.

3. Dampak Sistemik

Jika dijalankan secara konsisten, gerakan ini akan melahirkan generasi pemimpin yang:

a)       terbiasa berpikir sebelum berbicara,

b)       berani mempertanggungjawabkan gagasan secara terbuka,

c)       dan menjadikan literasi sebagai kompas moral kepemimpinan.

Inilah bentuk kepemimpinan yang tidak lahir dari pencitraan, melainkan dari proses panjang untuk membangun integritas. Menulis memberi fondasi kokoh tidak mudah runtuh oleh tekanan popularitas. Di era digital, setiap pelajar dapat menulis dan menyebarkan gagasan tanpa menunggu legitimasi jabatan. Namun, jalan ini menuntut kesabaran karena kerap kalah cepat dari kepemimpinan instan yang mengejar sensasi. Tantangan utamanya adalah bertahan di tengah arus tren agar integritas tidak tereduksi menjadi sekadar mencari validasi.

PENUTUP

Kepemimpinan bukanlah tentang seberapa sering seseorang berdiri di depan, melainkan seberapa berani ia bertanggung jawab atas gagasan yang ia perjuangkan. Dalam perjalanan menulis melalui jurnalistik, feature, dan karya sastra lainnya saya belajar bahwa setiap kata mengandung konsekuensi moral. Menulis memaksa saya untuk jujur pada faktadan berpikir sebelum berbicara. Di situlah kepemimpinan menemukan maknanya.

Di zaman rendahnya literasi dan derasnya arus informasi instan, Indonesia membutuhkan generasi pemimpin yang tidak tergesa-gesa mengambil sikap, tetapi yang mempertimbangkannya terlebih dahulu. Pemimpin yang tidak hanya lantang di ruang publik, tetapi juga jernih dalam nalar dan teguh dalam integritas. Literasi memberi ruang dalam membentuk pemimpin yang memahami persoalan sebelum menawarkan solusi.

Melalui gagasan “Menulis untuk Memimpin,” saya yakin bahwa pelajar Indonesia memiliki peran strategis dalam membangun masa depan bangsa. Gerakan ini sederhana, tetapi memiliki dampak yang sistemik jika dijalankan secara konsisten oleh generasi muda. Seperti yang diimpikan H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin besar lahir dari sebuah kebiasaan menulis. Dengan menulis, kita dapat belajar memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. Dan dari sanalah Indonesia dapat berharap lahirnya pemimpin masa depan yang tidak hanya cakap, tetapi juga berintegritas.

 


Komentar

Posting Komentar